PELAYANAN TERAPI DAN ALAMAT

Terapi Masas cedera Lutut

Terapi Masas cedera Lutut

PELAYANAN TERAPI KHUSUS CEDERA OLAHRAGA

  • Cedera Angkel (Kesleo pada pergelangan kaki)
  • Cedera Lutut (Strain maupun Sprain pada ligament lutut)
  • Cedera Bahu (Dislokasi bahu maupun ligament)
  • Cedera Elbo (Kesleo pada lengan)
  • Cedera Pinggang (Kesleo atau ketarik pada otot pinggang)
  • Cedera Panggul
  • Cedera Punggung
  • Cedera Hamstring/Paha (Ketarik otot paha)
  • Cedera Strain/Sparint Ligamen/otot besar
  • Cedera Jari-Jari tangan (kesleo atau dislokasi )
  • Cedera Low Back Paint (nyeri pinggang)
  • Cedera Ischialgia merupakan suatu kondisi dimana terjadinya penjepitan saraf di daerah bokong/ pantat ( Nervus Ischiadicus)
  • Dan berbagai macam cedera olahragamaupun aktivitas bukan olahraga lainnya
 PELAYANAN RELAKSASI OTOT

1. SPORT MASSAS (UNTUK ATLET RILAKSASI)
2. CIRCOLO MASSAS  (UNTUK RILAKSASI KARENA AKTIVITAS UMUM )

PELAYANAN LAIN

 1. PENANGANAN TERAPI MENGGUNAKAN PERPADUAN AKUPRESUER
 2. SPORT AKUPUNTUR (AKUPUNTUR KHUSUS UNTUK CEDERA OLAHRAGA)
3. PELAYANAN DENGAN AKUPRESUR BERBAGAI PENYAKAIT
4. KONSULTASI KESEHATAN OLAHRAGA

ALAMAT LENGKAP PRAKTEK  :

JL PARANGTRITIS KM 9,5 RUKO GABUSAN, SEWON, BANTUL, YOGYAKARTA 55186
NO HP : 081 802 660 105
PELAYANAN SETIAP HARI: MULAI JAM 10.00- SELESAI
NB: SEBELUM TERAPI KERUMAH DIRAHAP MENGHUBUNGI DULU ATAU SMS

PELAYANAN TERAPY YANG DILAKUKAN DENGAN TENAGA PRAKTISI YANG PROFESIONAL SESUAI DENGAN DISIPLIN ILMU.

Iklan
Dipublikasi di KESEHATAN OLAHRAGA | Tag | Meninggalkan komentar

TERAPI LATIHAN PASCACEDERA BAHU

TERAPI LATIHAN PASCACEDERA BAHU

Oleh: BM. Wara Kushartani

Dosen Jurusan Pendidikan Kesehatan dan Rekreasi FIK UNY

ABSTRAK

Cedera merupakan masalah yang sulit dihindari oleh olahragawan, baik di dalam kompetisi maupun di saat latihan. Beberapa kasus, cedera membuat seorang olahragawan terpaksa harus pensiun dini dari dunia olahraga prestasi. Cedera diakibatkan oleh kekuatan luar yang menimpa tubuh, melebihi daya tahan jaringan tubuh.  Cedera bisa mengenai otot dan tendon, sendi dan ligamen, tulang, serta saraf.

Berbagai model terapi latihan untuk rehabilitasi cedera sudah diteliti. Model Terapi Latihan untuk cedera bahu dan lengan telah banyak diteliti dan terbukti bermanfaat dalam memulihkan cedera, baik secara subyektif maupun obyektif. komponen dasar terapi latihan meliputi latihan fleksibilitas dan ROM, latihan kekuatan dan daya tahan otot, serta latihan proprioseptif, koordinasi, dan kelincahan.

Hasil Latihan dapat diketahui adanya peningkatan fleksibilitas atau Range of Movement (ROM), kekuatan, dan daya tahan otot. Untuk unsur kekuatan dapat dinilai dari kemampuannya melawan beban, baik mendorong, menarik, mengangkat, maupun menekan. Untuk daya tahan otot dapat dinilai dari kemampuannya melakukan usaha secara berulang-ulang, sedangkan untuk fleksibilitas dinilai dari kemampuannya menusuri kisaran gerak sendi. Besarnya kisaran gerak sendi pada saat tidak cedera dapat menjadi target hasil latihan, dan secara rinci tersaji sebagai berikut: 1) fleksi ke depan: 0 – 180 derajat, 2) ekstensi: 0 – 70 derajat, dan 3) adduksi: 0 – 45 derajat

Kata kunci: Cedera, Terapi Latihan

 

Prevalensi cedera saat ini cukup besar dan sebagian besar penyembuhannya tidak sempurna, sehingga ada kecenderungan untuk mengalami cedera ulangan/kambuhan. Pada beberapa kasus, cedera membuat seorang olahragawan terpaksa harus pensiun dini dari dunia olahraga prestasi. Petenis Angelique Wijaya adalah salah satu contoh kasus berhentinya karir olahragawan akibat cedera yang tidak dapat sembuh sempurna. Di Amerika, kira-kira 20 % anak-anak dan remaja yang  berpartisipasi dalam olahraga mengalami cedera setiap tahunnya. Satu dari empat kasus cedera yang terjadi merupakan cedera yang serius (Konin, 2009). Di KONI DIY selama pelatda PON XII terlihat bahwa dari 98 kasus cedera yang ditangani, 72 kasus (73,5 %) diantaranya merupakan cedera kambuhan akibat penyembuhan cedera lama yang tidak sempurna (Litbang KONI DIY, 2008).

Di sisi lain, berbagai model terapi latihan untuk rehabilitasi cedera sudah diteliti. Model terapi latihan untuk cedera bahu dan lengan telah banyak diteliti dan terbukti bermanfaat dalam memulihkan cedera baik secara subyektif maupun obyektif. Tekanan yang dihadapi pada pertandingan terkadang tidak bisa ditoleransi oleh tubuh. Jika kekuatan luar yang mengenai tubuh melebihi daya tahan jaringan tubuh, maka cedera akan terjadi.  Cedera bisa mengenai otot dan tendon, sendi dan ligamen, tulang, saraf, dan lain sebagainya.

PATOFISIOLOGI CEDERA

Respon jaringan muskuloskeletal terhadap trauma menurut Kannus (2000) terdiri atas tiga fase, yaitu fase inflamasi akut, fase proliferatif, serta fase maturasi dan remodelling. Pada fase inflamasi akut, terjadi iskemia, gangguan metabolik, dan kerusakan membran sel karena proses peradangan, yang pada gilirannya ditandai dengan infiltrasi sel-sel inflamasi, edema jaringan, eksudasi fibrin, penebalan dinding kapiler, penututpan kapiler, dan kebocoran plasma. Segera setelah terjadi cedera, terjadi proses peradangan sebagai mekanisme pertahanan tubuh. Peradangan ditandai dengan panas, merah, bengkak, nyeri, dan hilangnya fungsi. Panas dan warna merah di tempat cedera disebabkan karena meningkatnya aliran darah dan metabolisme di tingkat sel. Pembengkaan akan terjadi di daerah cedera karena kerja agen-agen inflamasi dan tingginya konsentrasi protein, fibrinogen dan gamma globulin. Cairan akan mengikuti protein, keluar sel dengan cara osmosis, sehingga timbul bengkak. Rasa nyeri disebabkan oleh iritan kimiawi yang dilepaskan di tempat cedera. Nyeri juga terjadi akibat meningkatnya tekanan jaringan karena bengkak yang akan mempengaruhi reseptor saraf, dan menyebabkan nyeri (The Athlete Project, 2005).

Pada fase proliferatif, terjadi pembentukan faktor pembekuan fibrin dan proliferasi fibroblast, sel sinovial, dan kapiler. Sel-sel inflamasi menghilangkan jaringan yang rusak dengan fagositosis, dan fibroblast secara ekstensif memproduksi kolagen (pada awalnya adalah yang paling lemah, yaitu kolagen tipe 3, selanjutnya tipe 1) dan komponen matriks ekstraselular lainnya.        Fase maturasi ditandai dengan berkurangnya kandungan air proteoglikan pada jaringan penyembuhan dan serabut kolagen tipe 1 akan kembali normal. Kira-kira 6 sampai 8 minggu sesudah cedera, serabut kolagen baru dapat menahan tekanan yang mendekati normal, meskipun maturasi tendon dan ligamen mungkin membutuhkan waktu lebih lama, bisa sampai 6-12 bulan.

REHABILITASI CEDERA

Menurut Houglum (2005), prinsip rehabilitasi harus memperhatikan prinsip-prinsip dasar sebagai berikut: 1) menghindari memperburuk keadaan, 2) waktu, 3) kepatuhan, 4) individualisasi; 5) beruntun secara spesifik, 6) Intensitas, dan 7) total pasien. Pada penanganan rehabilitasi cedera, sangat penting untuk tidak memperburuk cedera. Terapi latihan, jika tidak dilaksanakan dengan benar potensial untuk membuat cedera lebih parah. Pengetahuan tentang bagaimana respon tubuh terhadap cedera  menentukan dalam pemilihan latihan yang digunakan. Keterampilan dalam observasi respon pasien diperlukan untuk mengenali kapan dan seberapa jauh pengaruh program terapi latihan dapat memberi efek tanpa memperburuk cedera.

Prinsip terapi latihan dalam program rehabilitasi harus dimulai sesegera mungkin, tanpa memperburuk cedera. Semakin cepat pasien memulai porsi latihan, semakin cepat dapat kembali ke aktivitas sepenuhnya. Setelah cedera, istirahat memang diperlukan, namun demikian hasil penelitian menunjukkan bahwa terlalu banyak istirahat akan memperlambat pemulihan. Dikatakan bahwa imobilisasi seminggu pertama setelah cedera, 3 % – 4 % kekuatan otot berkurang setiap harinya. Beberapa studi menemukan bahwa laju pemulihan jauh lebih lambat daripada laju kehilangan kekuatan otot. Penemuan tersebut mengindikasikan pentingnya memulai program terapi latihan sesegera mungkin setelah kondisi memungkinkan. Tanpa kepatuhan pasien, program rehabilitasi tidak akan berhasil. Untuk memastikan kepatuhan, sangatlah penting untuk menginformaskan isi dan tujuan program kepada pasien. Pasien akan lebih patuh jika pasien menyadari program yang diikutinya. Seringkali seseorang yang mengalami cedera merasa kehilangan kekuatan akibat cedera. Perasaan ini dapat mencegah kesuksesan program terapi latihan. Kepatuhan dalam hal ini berarti bahwa program dijalankan secara konsisten.

Masing-masing orang merespon cedera secara berbeda-beda, dan hal ini mempengaruhi program rehabilitasi yang harus diikuti. Perbedaan psikologis dan kimiawi mempengaruhi respon spesifik terhadap cedera. Sangat penting untuk menyadari bahwa meskipun suatu cedera kelihatannya sama, namun demikian perbedaan yang tidak terdeteksi dapat mengubah respon individu terhadap cedera. Urutan program rehabilitasi cedera, yaitu latihan fleksibilitas dan range of motion (ROM), latihan kekuatan dan daya tahan otot, serta latihan proprioseptif, koordinasi, dan kelincahan harus diikuti secara konsisten.

Intensitas terapi latihan harus memberi tantangan pasien dan daerah cedera, tetapi tidak boleh memperburuk cedera. Mengetahui kapan meningkatkan intensitas tanpa memperberat cedera membutuhkan observasi respon pasien dan pengetahuan tentang proses penyembuhan. Sebagai contoh, jika seorang pasien dapat dengan mudah memepertahankan keseimbangan satu kaki, buat program dengan aktivitas yang sama di atas permukaan yang tidak stabil, misalnya di atas trampolin mini. Jika di atas lantai terlalu mudah dan di atas trampolin terlalu sulit, maka pasien bisa melakukannya di atas lantai degan mata tertutup.

Sangatlah penting bagi pasien cedera untuk mempertahankan kebugaran pada daerah yang tidak terkena cedera. Hal ini berarti bahwa pasien harus menjaga sistem kardiovaskular pada tingkat sebelum cedera, mempertahankan ROM, kekuatan dan daya tahan otot, serta koordinasi pada anggota gerak dan sendi yang tidak cedera. Saat pasien cedera, fokus program rehabilitasi tidak hanya pada daerah cedera, tetapi juga pada seluruh tubuh. Menurut Viljoen (2000), rehabilitasi cedera meliputi pencegahan cedera, penilaian cedera, dan manajemen cedera. Pencegahan cedera terdiri atas tes sebelum partisipasi olahraga, intervensi secara individual, penilaian dan skrining teratur, latihan kekuatan dan kondisioning dengan benar, serta melibatkan ahli biomekanik olahraga. Idealnya tim medis meliputi dokter olahraga, fisioterapis, dan ahli biokinetik/biomekanik. Dokter olahraga bertugas mengkoordinasi dan menilai kondisi medis bersama dengan tim, menilai persiapan medis dalam even olahraga, mengkoordinasi rehabilitasi dan perkembangannya, mengatur dan menilai penggunaan alat-alat pelindung, manajemen cedera, mendiagnosis cedera, membuat keputusan klinis terkait beratnya cedera dan akibat yang ditimbulkannya, mengevaluasi kapan kembali bermain bersama dengan tim, serta mengedukasi olahragawan tentang zat-zat ergogenik dan daftar obat terlarang.

Fisioterapis olahraga bertugas mengevaluasi kondisi muskuloskeletal, mengawali segera rehabilitasi, manajemen cedera di lapangan bersama dokter olahraga, melakukan pembalutan pada cedera, mengevaluasi kesiapan kembali bertanding, bersama tim medis mengedukasi pemain tentang pencegahan cedera, dan menggunakan berbagai pendekatan multidisiplin dalam rehabilitasi. Ahli biokinetik/biomekanik bertugas membuat program kondisi fisik, sebelum, selama, dan sesudah pertandingan, mengevaluasi program rehabilitasi, memonitor dan mencegah overtraining, mengevaluasi kesiapan kembali bertanding, mengedukasi pemain tentang pencegahan dan pengobatan cedera, menggunakan pendekatan multidisiplin dalam rehabilitasi dan kondisioning, mengoreksi kondisi biomekanik yang tidak benar, merawat rekam medis dan data-data perkembangan pemain, serta memfasilitasi manajemen.

Penilaian cedera pada tahap awal dilakukan oleh dokter atau fisoterapis, dan kalau dibutuhkan bisa dilakukan pemeriksaan tambahan, seperti foto rongten, CT Scan, MRI, atau bahkan pembedahan jika diperlukan. Kunci kesuksesan rehabilitasi adalah diagnosis cedera yang tepat. Penilaian cedera meliputi riwayat cedera, observasi dan inspeksi, palpasi, penilaian fungsi otot, tes-tes khusus, seperti tes instabilitas ligamen. Tes tergantung pada lokasi, riwayat cedera, dan gejala yang timbul. Setelah dilakukan penilaian, disusun action plan, yang meliputi pengobatan segera, menentukan frekuensi dan durasi terapi, menentukan tujuan dan bagaimana memonitor kemajuan program, mengedukasi pasien, serta menentukan kriteria kapan bisa kembali bermain.

Manajemen cedera meliputi berbagai target yang bertujuan meningkatkan fungsi otot serta kondisi tubuh secara keseluruhan. Adapun komponen-komponen yang termasuk di dalamnya meliputi fleksibilitas, kekuatan dan daya tahan otot, power, kestabilan sendi, reaktivitas neuromuskular, kebugaran kardiovaskular, reedukasi gerak dan koordinasi, serta komponen biomotor spesifik lainnya.

KOMPONEN DASAR TERAPI LATIHAN

Program rehabilitasi mempunyai dua elemen dasar, yaitu terapi modalitas dan terapi latihan. Terapi modalitas digunakan untuk mengobati efek-efek akut cedera, seperti nyeri, bengkak, spasme, sedangkan terapi latihan sangat esensial dan merupakan faktor kritis bagi pasien untuk bisa kembali berpartisipasi dalam olahraga atau kembali ke aktivitas semula. Houglum (2005) menyebutkan  bahwa komponen dasar terapi latihan meliputi latihan fleksibilitas dan ROM, latihan kekuatan dan daya tahan otot, serta latihan proprioseptif, koordinasi, dan kelincahan.

Fleksibilitas terkait dengan mobilitas otot dan kemampuan otot untuk memanjang. Jika otot mengalami imobilisasi selama periode waktu tertentu, ada kecenderungan untuk kehilangan fleksibilitas atau derajat mobilitas. Jika latihan peregangan disertakan dalam program kondisi fisik rutin, otot akan cenderung untuk mempertahankan fleksibilitas. ROM merujuk pada jumlah gerakan yang mungkin dilakukan oleh sebuah sendi. Sebagai contoh, normal ROM untuk abduksi sendi bahu adalah 180°. ROM dipengaruhi oleh fleksibilitas otot dan kelompok otot yang mengelilingi sendi. Jika fleksibilitas otot kurang, sendi tidak dapat melakukan ROM secara penuh. Selain itu ROM juga dipengaruhi beberapa faktor, seperti mobilitas kapsul sendi dan ligamen, fascia, serta kekuatan otot. Pencapaian fleksibilitas lebih awal dalam terapi latihan diperlukan karena parameter lain ditentukan oleh fleksibilitas daerah cedera dan efek dari proses penyembuhan. Jaringan yang sembuh dari cedera meninggalkan jaringan penyembuhan yang dapat meneyebabkan kontraktur. Selama masa penyembuhan, ada kesempatan emas untuk mengubah jaringan sikatrik tersebut.

Kekuatan otot merupakan kekuatan maksimum yang dapat dilakukan oleh otot, sedangkan daya tahan otot merupakan kemampuan otot untuk mempertahankan kekuatan submaksimal, baik dalam aktivitas statis maupun aktivitas repetitif. Kekuatan dan daya tahan otot saling mempengaruhi. Saat kekuatan otot meningkat, daya tahan juga meningkat dan sebaliknya.          Lemahnya keseimbangan, proprioseptif, dan koordinasi, baik akibat cedera maupun kurangnya latihan keterampilan khusus, akan meningkatkan risiko cedera. Berbagai faktor berpengaruh terhadap proprioseptif, koordinasi, dan kelincahan. Di sisi lain, ketiga komponen ini akan mempengaruhi power otot, keterampilan eksekusi, dan penampilan secara umum. Untuk mengembangkan kemampuan proprioseptif dan koordinasi, fleksibilitas dan kekuatan otot harus sudah dicapai. Koordinasi dan kelincahan didasarkan pada fleksibilitas dalam menampilkan keterampilan melalui ROM yang memadai dan kekuatan, daya tahan, serta power otot untuk menampilkannya secara berulang, cepat, dan benar.

CEDERA BAHU

Bahu merupakan area unik, yang tersusun atas beberapa persendian, seperti sendi sternoclavicular, acromioclavicular, scapulothoracic, dan glenohumeral. Dalam melakukan fungsi mobilitas dan stabilitas, bahu didukung oleh sendi-sendi penyusunnya dan otot-otot di sekelilingnya, yang bekerja secara selaras supaya bahu dapat berfungsi normal. Hal mendasar yang mendukung fungsi sendi normal adalah stabilitas. Saat cedera terjadi, stabilitas sendi normal terganggu dan pemulihan sempurna bisa terancam, kecuali jika stabilitas dipertahankan. Stabilitas sendi dipengaruhi faktor statis dan dinamis. Stabilitas statis didukung oleh struktur yang membentuk sendi bahu, yaitu kapsul sendi, ligamen, dan labrum glenoid. Stabilitas dinamis merupakan tanggungjawab saraf dan otot, menyediakan input yang tepat dari reseptor aferen ke sistem saraf pusat. Saat ligamen mengalami cedera, reseptor aferen yang berlokasi di ligamen tersebut tidak bisa menyediakan input sensori yang adekuat. Hal ini membuat input neural lemah dan pada gilirannya menimbulkan respon otot yang tidak tepat. Hasilnya adalah berkurangnya stabilitas statis karena cedera itu sendiri dan ketidakstabilan dinamis disebabkan oleh kerusakan reseptor aferen. Ketidakstabilan dinamis terjadi jika otot di sekeliling bahu tidak seimbang. Jika kelompok otot agonis dan antagonis tidak seimbang, otot-otot tersebut kehilangan kontrol proprioseptif dan kinestetik sehingga timbul ketidakstabilan dinamis. Ketidakseimbangan otot, jika tidak dikoreksi, potensial menimbulkan cedera bahu. Ahli rehabilitasi harus dapat memecah siklus penyebab cedera, dengan mendesain program rehabilitasi yang dapat mempertahankan stabilitas dinamis. Program rehabilitasi meliputi reedukasi sistem neuromuskular dan latihan untuk menciptakan keseimbangan antara agonis dan antagonis.

Teknik rehabilitasi bahu adalah mobilisasi jaringan lunak dan mobilisasi sendi. Pelepasan trigger point dan pemakaian es digunakan untuk memperbaiki otot-otot rotator cuff, otot scapula, dan otot-otot glenohumeral. Mobilisasi sendi digunakan untuk memperbaiki mobilitas sendi glenohumeral, sendi scapulothoracic, dan sendi clavicular. Otot-otot rotator cuff meliputi otot supraspinatus, subscapularis, teres minor, dan infraspinatus. Otot dan tendo supraspinatus bisa menjalarkan nyeri ke lengan, nyeri dirasakan sebagai nyeri dalam di sisi lateral bahu, bagian tengah otot deltoid turun ke insersi deltoid.  Rasa nyeri juga bisa dijalarkan ke epicondylus lateral siku. Penyembuhan trigger point bisa dilakukan dengan posisi pasien berbaring miring atau duduk. Sisi medial trigger point biasanya lebih sensitif. Dengan posisi lengan flexi, penekanan dilakukan di atas trigger point di atas spina clavicular, sebelah lateral batas vertebra (bagian atas bahu, agak ke belakang). Pemakaian es disapukan dari insersi supraspinatus proksimal, melintasi otot dan acromion, di atas deltoid, menuju siku.

Otot subscapularis menjalarkan nyeri ke sisi posterior pergelangan tangan dan aspek inferior daerah bahu posterior, di pertemuan lengan dengan togok. Kadang nyeri juga dijalarkan ke scapula, turun ke posterior lengan, menuju siku dan mengelilingi sekitar pergelangan tangan. Pelepasan trigger point dilakukan dalam posisi supinasi dan lengan abduksi sekitar 60° sampai 90°. Otot teres minor menjalarkan nyeri ke bagian posterior lengan sebelah atas, proksimal pelekatan deltoid. Nyeri dirasakan dalam dan tajam. Pelepasan trigger point dilakukan dalam posisi berbaring miring di sepanjang batas lateral scapula antara teres mayor inferior dan infraspinatus superior. Otot infraspinatus menjalarkan nyeri ke bagian anterior bahu, lengan, pergelangan tangan, dan sisi radial jari tangan. Pelepasan trigger point dilakukan dengan penekanan di atas otot. Otot secara progresif diregangkan dengan menggerakkan lengan ke belakang punggung dengan bahu rotasi medial.

Otot-otot scapula meliputi otot trapezius, levator scapula, serratus anterior, rhomboid, pectoralis minor, sedangkan otot-otot glenohumeral meliputi otot latissimus dorsi, teres mayor, pectoralis mayor, dan deltoid. Mobilisasi sendi dapat dilakukan pada semua sendi pada bahu. Namun perlu diketahui adanya pembatasan capsular sendi glenohumeral, yaitu gerakan abduksi lebih terbatas daripada flexi, dan flexi lebih terbatas daripada rotasi medial. Dalam melakukan mobilitas sendi, harus dingat bahwa permukaan humerus cembung, bergerak pada fosa glemoid yang cekung sehingga hukum cembung-cekung diterapkan.

Latihan fleksibilitas untuk bahu bisa berupa latihan pendulum, peregangan aktif. Peregangan tidak boleh sampai menimbulkan nyeri.  Latihan fleksibilitas dilakukan pada semua penyusun sendi bahu. Latihan kekuatan untuk bahu dimulai dengan aktivitas isometrik, kemudian latihan isotonik. Latihan isometrik dimulai pada awal program rehabilitasi saat pasien terbatas mobilitas bahu dan kekuatannya. Masing-masing kontraksi isometrik secara bertahap ditingkatkan sampai kontraksi maksimum, dipertahankan, kemudian dikurangi secara bertahap sampai otot relaksasi. Tiap kontraksi isometrik dipertahankan 5 samapi 10 detik dan diulangi 10 kali. Latihan isometrik dilakukan untuk memperkuat otot-otot flexor, abduksi, ekstensor, rotasi medial, dan rotasi lateral.

Saat kekuatan otot sudah mampu mengontrol sendi selama pergerakan, latihan lebih lanjut bisa dilakukan. Jika pasien merasa nyeri saat bahu dalam posisi elevasi, sangat disarankan untuk melakukan latihan dengan tahanan manual. Pasien yang sudah mencapai kekuatan dan stabilitas bahu dapat melakukan latihan pliometrik pada permukaan yang tidak stabil, pliometrik push-up, aktivitas dengan beban, dan latihan dengan medicine-ball. Bentuk-bentuk terapi latihan untuk cedera bahu dan lengan dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. Codman’s Pendulum Swing (Mengayun lengan)

Letakkan lengan sehat ke meja untuk menyangga tubuh. Bungkukkan badan dan biarkan lengan/bahu yang cedera menggantung rileks. Perlahan ayunkan lengan memutar searah dan berlawanan arah dengan jarum jam, kemudian ke depan-belakang dan samping-menyamping. Ulangi 30 kali pada masing-masing arah.

  1. Wall Lader (Merambat tembok)

Berdirilah menyamping tembok, jangkaulah tembok dengan lengan cedera dalam posisi lurus. Merambatlah ke atas dengan bantuan jari-jari tangan setinggi mungkin, kemudian pertahankan posisi tersebut. Ulangi 3-5 kali. Lakukan latihan ini dengan menghadap tembok maupun menyamping tembok.

  1. Supine Flexion (Tekuk lengan ke belakang)

Tidur terlentang dan peganglah T-Bar atau tongkat dengan kedua tangan. Angkat lengan diatas kepala sejauh mungkin dan tahan 5-10 detik. Kembali ke posisi semula dan ulangi kembali gerakan ini. Apabila fleksibilitas dan kekuatan sudah bertambah, boleh ditambahkan beban pada tongkat.

  1. Bent Arm Flexion (Angkat lengan ke depan-atas)

Sangga lengan yang cedera dengan tangan yang sehat, dan perlahan angkat lengan cedera tersebut ke depan dan ke atas sejauh mungkin. Pertahankan dan turunkan kembali ke posisi semula. Istirahatkan, dan ulangi gerakan ini sebanyak 30 kali.

  1. T-Bar Flexion (Angkat lengan dengan T-Bar)

Pegang secara kendor ujung T-Bar dengan lengan yang cedera, dan lengan sehat memegang ujung panjang T-Bar. Angkat lengan cedera dengan mendorong T-Bar setinggi mungkin, kemudian tahan dan turunkan kembali secara perlahan. Ulangi 30 kali. T-Bar Flexion (Angkat lengan dengan T-Bar)

Pegang secara kendor ujung T-Bar dengan lengan yang cedera, dan lengan sehat memegang ujung panjang T-Bar. Angkat lengan cedera dengan mendorong T-Bar setinggi mungkin, kemudian tahan dan turunkan kembali secara perlahan. Ulangi 30 kali.

  1. Active Flexion (Angkat lengan Secara Aktif)

Berdirilah dengan siku lurus dan ujung jari menghadap ke depan. Angkat lengan cedera ke atas di depan tubuh setinggi mungkin, pertahankan dan turunkan secara perlahan. Ulangi gerakan ini

  1. Bent Arm Extension (Tarik lengan ke belakang-bawah)

Sangga lengan yang cedera dengan telapak tangan yang sehat, dan perlahan dorong lengan cedera ke belakang sejauh mungkin. Pertahankan, dan kemudian kembali ke posisi semula secara perlahan. Ulangi 30 kali.

  1. T-Bar Extension (Tarik ke belakang-bawah dengan T-Bar)

Genggam renggang ujung T-Bar dengan lengan cedera, dan pegang ujung lain dengan tangan yang sehat. Gunakan tangan sehat untuk mendorong lengan cedera ke belakang tubuh sejauh mungkin. Pertahankan dan kembalikan ke posisi awal. Ulangi 30 kali.

  1. Prone – Extension (Lengan menempel panggul)

Tidurlah telungkup dengan lengan cedera menggantung kearah lantai. Dengan lengan cedera yang diputar keluar, angkat ke belakang menuju panggul sehingga sejajar dengan lantai. Tidak perlu lebih dari sejajar lantai.

  1. Bent Arm Abduction (Angkat lengan menjauhi tubuh)

Letakkan lengan cedera di tangan yang sehat, dan dengan perlahan bawa lengan cedera menjauhi tubuh semaksimal mungkin. Pertahankan dan kembalikan pelan ke posisi semula. Rilekskan sebentar dan ulangi 30 kali.

  1. T-Bar Abduction (Angkat menjauhi tubuh dengan T-Bar)

Pegang ujung T-Bar dengan lengan cedera, dan ujung lain dengan lengan sehat. Pergunakan tangan sehat untuk mengangkat lengan cedera menyamping menjauhi tubuh semaksimal mungkin. Pertahankan dan kembalikan perlahan ke posisi semula. Ulangi 30 kali.

  1. Active Abduction (Angkat menjauh dari tubuh secara aktif)

Berdirilah dengan siku lurus. Angkat lengan cedera menjauhi tubuh setinggi mungkin. Pertahankan dan turunkan perlahan. Ulangi kembali

  1. Prone Horizontal Abduction (Angkat menjauhi tubuh)

Tidurlah tengkurap di meja. Angkat keluar lengan cedera menjauhi tubuh sampai sejajar lantai. Pertahankan, kembalikan ke posisi semula dan ulangi gerakan tersebut

  1. Adducted Internal / External Rotation (Memutar lengan ke dalam dan ke luar)

Dengan lengan cedera disamping badan dan menekuk siku 90 derajat, putarlah lengan menyilang tubuh ke perut sejauh mungkin. Pertahankan, kemudian ganti putar ke luar dan pertahankan. Dengan perlahan kembalikan ke posisi semula dan ulangi 30 kali.

  1. Side Lying Internal Rotation (Putar lengan ke dalam dengan posisi tidur miring)

Tidurlah miring ke sisi lengan cedera dengan siku menekuk 90 derajat. Dengan perlahan, angkat tangan cedera ke perut. Pertahankan, kemudian kembalikan ke posisi semula. Ulangi beberapa kali.

  1. Side Lying External Rotation (Putar lengan ke luar dengan posisi tidur miring)

Tidurlah miring ke sisi lengan yang sehat dengan siku terletak di dada dan menekuk 90 derajat. Perlahan angkat tangan ke atas menjauhi tubuh semaksimal mungkin. Pertahankan dan turunkan kembali. Ulangi gerakan ini beberapa kali.

  1. Supine Internal/External Rotation (Putar lengan ke depan dan ke luar dengan posisi tidur terlentang)

 

Tidurlah terlentang di meja dengan bahu renggang dan siku tersangga dalam posisi menekuk. Perlahan angkat tangan ke atas dan ke depan sejauh mungkin. Pertahankan 1-2 detik, dan kembalikan ke posisi semula. Usahakan punggung tangan menyentuh meja pada posisi ke belakang dan telapak tangan menyentuh meja pada posisi ke depan. Ulangi gerakan ini beberapa kali.

  1. Supraspinatus

Berdirilah dengan siku lurus dan lengan memutar ke dalam. Angkat tangan setinggi mata dengan sudut 30 derajat terhadap tubuh. Jaga jangan sampai lebih tinggi dari mata. Pertahankan, dan kembalikan ke posisi semula. Ulangi gerakan ini beberapa kali.

  1. Shrugs

Berdirilah dengan lengan disamping badan. Angkat bahu ke telinga dan pertahankan. Tarik bahu ke belakang sehingga saling mendekat. Pertahankan dan kemudian rilekskan. Ulangi beberapa kali.

  1. Towel Squeeze (Memeras handuk dengan lengan atas)

Lipat handuk menjadi 1/8, kemudian letakkan diantara dada dan lengan cedera. Perlahan tekankan lengan ke handuk dan dada dengan lengan bawah menyilang di depan tubuh pada sudut 45 derajat. Pertahankan kontraksi isometrik ini 5-10 detik, kemudian rilekskan. Ulangi gerakan ini beberapa kali.

  1. Supine Triceps Extension (Ekstensi trisep dalam posisi terlentang)

Berbaringlah terlentang dengan siku menekuk di dekat kepala. Letakkan lengan cedera ke bahu sehat. Perlahan luruskan siku sejauh mungkin tanpa menggerakkan lengan atas. Perlahan kembali ke posisi semula. Ulangi gerakan ini beberapa kali.

  1. Standing Triceps Press (Tekan trisep dalam posisi berdiri)

Angkat lengan cedera ke atas kepala. Sangga siku dengan lengan sehat. Perlahan luruskan lengan di atas kepala. Pertahankan dan kembalikan ke posisi semula. Ulangi beberapa kali.

  1. Seated Dips

Duduklah di tepi meja atau kursi dengan tangan memegang tepian meja/kursi. Perlahan luruskan lengan dan angkat pantat. Pertahankan 3-5 detik dan kembali ke meja dengan perlahan. Ulangi beberapa kali.

  1. Chair Dips

Letakkan bagian belakang badan di pinggiran kursi dengan kaki menjulur ke depan. Perlahan turunkan badan ke lantai sampai lengan atas sejajar lantai. Angkat badan ke atas dengan hati-hati dan pertahankan. Secara perlahan kembalilah ke posisi semula dan ulangi gerakan ini beberapa kali.

  1. Biceps Curls

Lengan lurus disamping badan dengan tangan menghadap ke depan. Perlahan tekuklah siku kearah bahu sejauh mungkin. Pertahankan dan rilekskan ke posisi semula. Ulangi gerakan ini beberapa kali.

  1. Supine Press

Berbaringlah terlentang dengan siku disamping dada dan menekuk 90 derajat. Perlahan angkat dan luruskan lengan ke atas. Pertahankan dan kembalikan perlahan ke posisi semula. Ulangi beberapa kali.

  1. Progressive Push-Ups

Peganglah tepian tempat tidur atau meja dengan kedua kaki sejajar dan berjarak 3-4 kaki dari tempat tidur. Perlahan turunkan badan kearah tepi tempat tidur, tapi tidak sampai menyentuhnya. Kembalilah ke posisi semula dan ulangi gerakan ini. Tingkatkan dengan menggunakan tempat tidur/meja yang semakin rendah dan pada akhirnya di lantai.

  1. Bent Over Rows

Bungkukkan badan sehingga sejajar dengan lantai dan lengan menggantung. Perlahan tariklah lengan ke atas sehingga tangan setinggi dada, seperti orang menggergaji. Turunkan dan kembali ke posisi awal. Ulangi gerakan ini beberapa kali.

KESIMPULAN

Hasil Latihan dapat dievaluasi dari adanya peningkatan fleksibilitas atau Range of Movement (ROM), kekuatan, dan daya tahan otot. Untuk unsur kekuatan dapat dinilai dari kemampuannya melawan beban, baik mendorong, menarik, mengangkat, maupun menekan. Untuk daya tahan otot dapat dinilai dari kemampuannya melakukan usaha secara berulang-ulang, sedangkan untuk fleksibilitas dinilai dari kemampuannya menusuri kisaran gerak sendi. Besarnya kisaran gerak sendi pada saat tidak cedera dapat menjadi target hasil latihan, dan secara rinci tersaji sebagai berikut: 1) Fleksi ke depan: 0 – 180 derajat, 2) Ekstensi: 0 – 70 derajat, 3) Adduksi: 0 – 45 derajat

Beberapa hal yang perlu diterapkan dalam menerapkan program terapi latihan ini adalah: 1) Mulailah latihan setelah tanda radang (bengkak, merah, nyeri) mereda, 2) Terapkan Kompres panas pada lokasi cedera sebelum memulai latihan, 3) Lakukan sedikit masase sambil menerapkan kompres panas sebelum latihan, 4) Latihlah bagian cedera dengan batas rasa nyeri dan makin lama makin ditingkatkan, 5) Gunakan peralatan di sekitar yang tersedia dengan tetap berorientasi pada tujuan latihan, 6) Kompres dan gosok dengan es lokasi cedera setelah selesai latihan, 7) Lakukan latihan sesegera dan sesering mungkin

DAFTAR PUSTAKA

Houglum, Peggy. (2005). Therapeutic Exercise for Musculoskeletal Injuries. Second Edition. Human Kinetics.

Kannus, Pekka. (2000). Immobilization or Early Mobilization After an Acute Soft-Tissue Injury? The Physcician and Sportsmedicine, Vol. 28, No.3.

Konin, Jeff. (2009). Current Trends in Youth Sports Injuries, USF Health Orthopedic and Sports Medicine, USA.

Litbang KONI DIY. (2008). Laporan Litbang KONI DIY, Yogyakarta.

The Athlete Project. (2005). The Injury Process. www.athleteproject.com. Diakses pada tanggal 28 Januari 2007.

Dipublikasi di KESEHATAN OLAHRAGA | Tag , , , , , | Meninggalkan komentar

CEDERA PADA ATLET

cedera olahraga

cedera olahraga

Dalam aktifitas olahraga pasti ada peristiwa dimana atlet mengalami cedera. Ada dua jenis cedera yang sering dialami oleh atlet, yaitu trauma akut dan Overuse Syndrome ( Sindrom Pemakaian Berlebihan ). Trauma akut adalah suatu cedera berat yang terjadi secara mendadak, seperti robekkan ligament, otot, tendo, atau terkilir, atau bahkan patah tulang. Cedera akut biasanya memerlukan pertolongan profesional. Overuse Sindrom pemakaian berlebihan sering dialami oleh atlet, bermula dari adanya kekuatan yang sedikit berlebihan, namun berlangsung berulang-ulang dalam jangka waktu yang lama. Sindrom ini kadang memberikan respon yang baik dengan pengobatan sendiri.

Cedera olahraga seringkali direspon oleh tubuh dengan tanda radang yang terdiri atas :

  1. Rubor ( merah )
  2. Tumor ( bengkak )
  3. Kalor ( panas )
  4. Dolor ( nyeri )
  5. dan Functiolaesa ( penurunan fungsi )

Pembuluh darah pada saat cedera akan melebar (vasodilatasi) dengan maksud untuk mengirim lebih banyak nutrisi dan oksigen dalam rangka mendukung penyembuhan. Pelebaran pembuluh darah inilah yang mengakibatkan lokasi cedera terlihat lebih merah ( rubor ). Cairan darah yang banyak dikirm kelokasi cedera akan merembes keluar dari kapiler menuju ruang antar sel, dan menyebabkan bengkak ( tumor ). Dengan dukungan banyak nutrisi dan oksigen, metabolisme di lokasi cedera akan meningkat dengan sisa metabolisme berupa panas. Kondisi inilah yang menyebabkan lokasi cedera akan lebih panas ( kalor )dibanding dengan kondisi lain. Tumpukan sisa metabolisme dan zat kimia lain akan merangsangujung saraf dilokasi cedera dan menimbulkan nyeri ( dolor ).

Rasa nyeri juga dipicu oleh tertekannya ujung saraf karena pembengkakan dilokasi cedera. Baik rubor, tumor, kalor, maupun dolor akan menurunkan fungsi organ atau sendi di lokasi cedera yang dikenal dengan istilah functiolaesa. Mengacu pada tanda-tanda radang inilah maka pada cedera akut, penanganan yang disarankan adalah Rest, Ice, Compression, and Elevation ( RICE ).

Cedera olahraga dapat di klasifikasikan sebagai cedera ringan apabila robekan yang terjadi hanya dapat dilihat dibawah microskop, dengan keluhan minimal, dan tidak mengganggu penampilan secara berarti. Contoh yang dapat dilihat adalah memar, lecet, dan sprain ringan.

Cedera sedang ditandai dengan kerusakan jaringan yang nyata nyeri, bengkak, kemerahan, panas dan ada gangguan fungsi. Tanda radang seperti tumor, rubor, kalor, dolor dan functiolaesa terllihat nyata secara keseluruhan atau sebagian. Contoh dari cedera ini adalah robeknya otot, tendo, serta ligament secara parsial. Pada cedera berat terjadi robekkan total atau hampir total, dan bisa juga terjadi patah tulang. Cedera ini membutuhkan istirahat total, pengobatan intensif atau bahkan operasi.

Cedera yang terjadi pada atlet adalah prain yaitu cedera pada sendi yang mengakibatkan robekan pada ligament.sprain yang terjadi karena adanya tekanan yang berlebihan dan mendadak pada sendi,atau karena penggunaan berlebihan yang berulang-ulang.

Sprain ringan biasanya disertai  dengan sebagian serabut ligament putus, sedangkan pada sprain sedang terjadi efusi cairan yang menyebabkan bengkak. Pada sprain berat,seluruh ligamen putus sehingga tidak dapat digerakkan seperti biasa dengan rasa nyeri hebat,pembengkakkan,dan adanya darah dalam sendi.

Dislokasi sendi juga sering terjadi pada olahragawan yaitu terpelesetnya bonggol sendi dari tempatnya.apabila sebuah sendi pernah mengalami dislokasi, maka ligament pada sendi tersebut akan kendur, sehingga sendi tersebut mudah mengalami dislokasi kembali ( dislokasi habitualis ). Penanganan yang dapat dilakukan pada saat terjadi dislokasi adalah segera menarik persendian tersebut dengan sumbu memanjang.

Cedera olahraga berat yang sering terjadi pada olahragawan adalah patah tulang yang dapat dibagi menjadi patah tulang terbuka dan tertutup. Patah tulang terbuka terjadi apabila pecahan tulang melukai kulit, sehingga tulang terlihat keluar, sedengkan patah tulang tertutup, pecahan tulang tidak menembus permukaan kulit. Pada kasus patah tulang, olahragawan harus berhenti dari pertandingan, dan secepat mungkin harus dibawa keprofesional karena harus direposisi secepatnya. Reposisi yang dilakukan sebelum 15 menit akan memberi hasil memuaskan karena pada saat itu belum terjadi nyeri pada tulang ( neurol shock ). Setelah reposisi bisa dipasang spalk untuk mempertahankan posisi dan sekaligus menghentikan pendarahan.

Penyebab terjadinya cedera olahraga dapat berasal dari luar seperti kontak keras dengan lawan pada olahraga body contact, karena benturan dengan alat-alat olahraga misalnya stick hockey, bola, raket, dan lain –lain. Dapat pula disebabkan oleh keadaan lapangan yang tidak rata yang meningkatkan petensi olahragawan untuk jatuh, terkilir, atau bahkan patah tulang. Penyebab dari dalam, biasanya terjadi karena koodinasi otot dan sendi yang kurang sempurna, ukuran tungkai yang tidak sama panjang, ketidakseimbangan otot antagonis.

Dipublikasi di KESEHATAN OLAHRAGA | Tag , , , , , | Meninggalkan komentar

Menjadi Ahli Terapi Pijat

P_20180129_101220

Seiring dengan semakin populernya Terapi Pijat, ahli terapi pijat yang berkualitas kini semakin diminati – yang menjadikan waktu yang menyenangkan bagi Anda untuk membangun masa depan yang cerah dalam profesi terapis massage/pijat!

Menjadi Therapist Pijat Berkualitas

The Massage Therapy Training Program sangat ideal bagi individu yang siap untuk memulai karir yang memuaskan dan fleksibel sebagai terapis pijat.

Sebagai siswa di LKP Rumah Sehat Mandiri Anda akan mendapatkan pengalaman dunia nyata memperlakukan masyarakat/pasien di klinik pelatihan pijat di tempat kami. Anda juga akan secara pribadi dibimbing oleh tim profesional pijat berpengalaman yang berdedikasi sarjana lulusan kesehatan olahraga khusus massage. Memiliki pengalaman klien langsung dan dukungan pribadi dalam program kami sepenuhnya akan mempersiapkan Anda untuk membuat transisi yang mulus dari mahasiswa ke pijat profesional.

LKP Rumah Sehat Mandiri mengakui semua orang belajar dengan cara berbeda. Program kami menggunakan berbagai metode pengajaran termasuk Audio danVisual, untuk mendukung Anda dalam mempelajari materi yang Anda butuhkan untuk menjadi terapis pijat yang sukses.

Keterampilan termasuk modalitas pijat berikut:

  • Pijat Olahraga (sport massage)
  • Pijat relaksasi umum (circulo massage)
  • Pijat Terapi Cedera (terapi massage)

Kesempatan bagi siapa saja yang ingin mempelajari ketrampilan pijat secara profesional

Dapatkan Dukungan Karier Berkelanjutan

Sebagai pemimpin dalam pendidikan terapi pijat selama lebih dari 4 tahun kami memiliki jaringan luas dalam pengembangan, banyak di antaranya adalah lulusan LKP Rumah Sehat Mandiri, dan kontak lain yang kami gunakan untuk membantu Anda berkembang sebagai profesional terapi pijat.

  Kesempatan berkarir

Lulusan LKP Rumah Sehat Mandiri memasuki lapangan dengan percaya diri, mengetahui mereka memiliki keterampilan yang dibutuhkan untuk membangun karir yang mereka inginkan. Anda akan mempelajari keterampilan yang memungkinkan Anda untuk menjalankan latihan Anda sendiri . Anda dapat memilih untuk bekerja penuh atau paruh waktu di berbagai tempat profesional terapis yang menarik, seperti:

Olahraga

  • Tim Atletik
  • Acara Marathon & Olahraga
  • Klub Kesehatan & Pusat Kebugaran

Menyeluruh

  • Pusat Kebugaran
  • Pusat Rehabilitasi
  • Klinik Pijat
  • Hotel Kelas Atas
  • Go Massage

Wirausaha

  • Memiliki Bisnis Anda Sendiri sebagai praktisi tunggal
  • Menyediakan layanan Pijat Kursi di tempat di kantor, bandara, lokasi ritel, acara publik dan pribadi

Kami dengan sepenuh hati percaya bahwa menjadi terapis pijat terlatih memberi Anda kemampuan untuk meningkatkan kehidupan, karier, dan komunitas Anda dengan cara yang akan membuat Anda dan orang-orang di sekitar Anda lebih bahagia dan lebih puas.

Lakukan apa yang kamu sukai!

Apakah Karir yang Bermanfaat dalam Terapi Pijat Tepat untuk Anda?
Dapatkan Info Lebih Lanjut …

Jika Anda tertarik untuk mempelajari lebih lanjut tentang karir di Terapi Pijat dan menjelajahi apakah Lembaga kami LKP Rumah Sehat Mandiri tepat untuk Anda, dan dapatkan informasi lebih lanjut.

Kami juga melakukan kerjasama pelatihan dilur kota seperti instansi pemerintah dan swasta atau lembaga2 dan berbagai komunitas, kami bisa mendatangi kepada peserta pelatihan info lanjud bisa menghubungi kami di:

Ke kami  WA/HP : 081802660105

Dipublikasi di KESEHATAN OLAHRAGA | Tag , , , , , , | Meninggalkan komentar

LAYANAN KAMI KEDEPAN

Layanan Terbaru Rumah Terapi 2015 ok

KONSEPLAYANAN KAMI KEDEPAN

 

Dipublikasi di KESEHATAN OLAHRAGA | Tag , , | Meninggalkan komentar

PENANGANAN AWAL CEDERA OLAHRAGA

cedera

cedera

Olahraga merupakan suatu aktivitas yang sudah tidak asing lagi dalam kehidupan kita. Begitupula dengan risiko cedera yang dapat terjadi pada aktivitas olahraga yang kita lakukan. Banyak diantara masyarakat kita yang masih awam dengan cedera olahraga. Cedera olahraga merupakan rasa sakit yang timbul karena aktivitas olahraga. Bila tubuh terkena cedera terjadi respon yang sama dengan peradangan. Peradangan ini terutama adalah reaksi vaskular berupa pengiriman darah beserta zat terlarut dan selnya ke jaringan intertisial.Tanda-tanda peradangan yang terjadi saat cedera pada jaringan tubuh: (1) panas yang terjadi karena meningkatnya aliran darah ke daerah yang cedera, (2) bengkak disebabkan adanya penumpukan cairan pada daerah sekitar jaringan yang cedera. (3) warna merahyang terjadi karena adanya perdarahan saat peradangan timbul, pembuluh darah arteri yang menyuplai daerah cedera akan melebar, sehingga lebih banyak darah mengalir kedalam mikrosirkulasi lokal.Kapiler yang sebelumnya kosong akan meregang dan dengan cepat akan terisi oleh darah. Keadaan ini yang menyebabkan warna merah lokal pada peradangan akut, (4) rasa nyeri karena terjadi penekanan baik otot maupun tulang pada saraf.(5) apabila cedera terjadi pada sendi akan timbul matinya fungsi sendi, karena kerusakan jaringanpersendian. Hal ini merupakan konsekuensi dari pembengkakan dan sirkulasi abnormal pada tubuh yang mengalami cedera.

Tindakan yang tepat perlu dilakukan untuk mengatasi reaksi radang yang ditimbulkan akibat cedera. Hal penting yang perlu untuk diperhatikan dalam penanganan cedera, yaitu dalam 24-48 jam pertama setelah terjadinya cedera tidak boleh melakukan massage atau memanaskan bagian yang cedera karena dapat memperberat cedera. Penangan awal yang dilakukan menggunakan prinsip rest ice compression elevation (RICE). (1) Rest (istirahat)merupakan tindakan mengistirahatkan bagian yang mengalami cedera.Istirahat perlu dilakukan untuk tetap menjaga tubuh agar cedera tidak bertambah. Lama waktu istirahat yang dilakukan tersebut tergantung berdasarkan tingkatan cedera yang dialami. (2) Ice (es)berguna untuk membatasi nyeri dengan mengurangi hipertonus otot yang reaktif. Pemberian es menyebabkan terjadinya vasokonstriksi, yang memperlambat perdarahan, menurunkan aktivitas metabolik, sehingga pada akhirnya dapat mengurangi peradangan dan nyeri. Mekanisme pemberian es dilakukan selama 15 sampai 20 menit selama 48 sampai 72 jam pertama menggunakan handuk atau kain untuk membungkus es. (3) Compression merupakan penerapan balut tekan ringan yang bertujuan untuk mengurangi pergerakan dan membatasi bengkak. Compression dapat dilakukan dengan dacker, crepe, atau tayping. Tekanan pembebatan yang diberikan terlalu kencang, karena dapat menyebabkan darah arteri tidak bisa mengalir kebagian distal ikatan yang menyebabkan bengkak akan semakin besar.(4) Elevation (meninggikan bagian yang cedera)merupakan tindakan penanganan dengan menaikkan bagian yang cedera lebih tinggi dari jantunguntuk mengurangi kongesti dari darah dan untuk mencegah berkumpulnya darah yang ada di dalam pembuluh darah balik sebagai daya tarik bumi. Penangan awal dengan prinsip RICE akan membantu tidak memperparah kerusakan jaringan tubuh yang mengalami cedera sampai mendapatkan terapi cedera olahraga yang tepat.

Oleh: satriya (rumah terapi cedera olahraga)

 

Dipublikasi di KESEHATAN OLAHRAGA | Tag , , | Meninggalkan komentar

AKUPUNTUR UNTUK CEDERA OLAHRAGA


SPORT AKUPUNTUR (AKUPUNTUR KHUSUS UNTUK OLAHRAGA)

images 1

Akupunktur pertama kali digunakan di China kuno, sedini 960AD. Kata akupunktur berasal dari kata latin (Acus) yang berarti ‘jarum‘ dan dideskripsikan sebagai ‘menusuk dari jaringan tubuh untuk menghilangkan rasa sakit‘.

Akupunktur dilakukan dengan memasukkan jarum dari berbagai panjang dan diameter ke titik-titik tertentu tubuh. Jarum biasanya dimasukkan, diputar dan kemudian segera dihapus atau kiri di tempat selama beberapa menit. Titik-titik akupunktur yang ada di sepanjang garis yang disebut meridian. Para cina kuno percaya bahwa kesehatan individu ditentukan oleh saluran energi, yang dikenal sebagai Qi yang mengalir di bawah kulit. Jika aliran Qi terganggu maka kita dapat mengembangkan penyakit. Tujuan memasukkan jarum adalah untuk mengembalikan aliran energi.

Dalam beberapa tahun terakhir lebih, akupunktur barat atau medis telah dikembangkan dan digunakan oleh dokter dan ahli fisioterapi, dengan prakteknya lebih didasarkan pada kondisi medis. Hal ini diyakini akan efektif karena pelepasan rasa sakit membunuh zat seperti endorphin dan teori sakit-gerbang yang menyatakan bahwa rangsangan di satu daerah tubuh akan menggantikan sensasi rasa sakit di tempat lain.

Dalam hal cedera olahraga, akupunktur telah berhasil digunakan untuk mengobati berbagai kondisi CEDERA OLAHRAGA, seperti:

Tennis elbow (Tenis siku)
Back pain(rasa sakit)
Frozen shoulder( Beku bahu)
Cedera Angkel (Kesleo pada pergelangan kaki)
Cedera Lutut (Strain maupun Sprain pada ligament lutut)
Cedera Bahu (Dislokasi bahu maupun ligament)
Cedera Pinggang (Kesleo atau ketarik pada otot pinggang)
Cedera Panggul
Cedera Punggung
Cedera Hamstring/Paha (Ketarik otot paha)
Cedera Strain/Sparint Ligamen/otot besar
Cedera Jari-Jari tangan (kesleo atau dislokasi )
Cedera Low Back Paint (nyeri pinggang)
Cedera Ischialgia merupakan suatu kondisi dimana terjadinya penjepitan saraf di daerah bokong/ pantat ( Nervus Ischiadicus)
Dan berbagai macam cedera olahragamaupun aktivitas bukan olahraga lainnya.

Cedera olahraga menyebabkan timbulnya rasa nyeri yang dapat mengganggu orang/atlet yang bersangkutan karena tidak dapat melakukan gerakan secara optimal lagi, dan ini menjadi alasan banyak orang yang berhenti berolahraga karena nyeri yang dirasakannya.

Cedera pada bahu merupakan salah satu yang sering dijumpai pada orang/atlet yang melakukan gerakan overhead seperti badminton, basket dan juga pada renang gaya bebas.

Akupunktur dapat menstimulasi susunan syaraf pusat untuk mengeluarkan zat kimia tertentu ke otot yang mengubah persepsi seseorang terhadap nyeri atau zat-zat seperti hormon yang dapat meregulasi tubuh sendiri.

Akupunktur juga dapat meningkatkan sirkulasi ke jaringan yang trauma, merangsang penyembuhan dan menurunkan substansi penyebab nyeri tubuh, sehingga tubuh menjadi lebih relaks.

Selain untuk cedera olahraga, akupunktur juga dapat meningkatkan stamina para atlet sehingga dapat menggantikan peran dopping yang jelas-jelas merugikan.

Efek akupunktur pada peningkatan stamina terjadi melalui efek vasodilatasi dan peningkatan permeabilitas kapiler, sehingga terjadi vaskularisasi otot yang menyebabkan otot bermetabolisme lebih baik sehingga dapat memperpanjang waktu latihan.

Bagi atlet atau masyarakat umum yang ingin terapi sport akupuntur untuk pemulihan cedera bisa datang ke klinik kami:

ALAMAT PRAKTEK KLINIK :

JL PARANGTRITIS KM 9,5 GABUSAN, YOGYAKARTA UTARA PASAR SENI GABUSAN 100 M RUKO GABUSAN NOMER 3 DARI UTARA. BARAT JALAN

NO HP : 081802660105

PELAYANAN SETIAP HARI SENIN-SABTU MULAI JAM 11.00-18.WIB

NB: SEBELUM TERAPI KERUMAH DIRAHAP MENGHUBUNGI DULU ATAU SMS

SEMOGA INFORMASI INI BERMANFAAT

Dipublikasi di KESEHATAN OLAHRAGA | Tag , , , , , , | Meninggalkan komentar

Cedera Lutut ligamen

Cedera Lutut pada Ligamen

Gambar

anatomi lutut

Cedera ligamen di lutut – seperti ligamen cruciatum anterior (ACL) – yang ditakuti oleh atlet profesional dan amatir sama. Cedera ini bisa menyakitkan dan melemahkan. Pada cedera ligamen akan mempengaruhi aktifitas fisik seseorang.
Jadi apa di balik cedera ini ditakuti?  Ligamen adalah pita keras jaringan yang menghubungkan tulang-tulang dalam tubuh Anda. Dua ligamen di lutut, ACL dan ligamen posterior (PCL), menghubungkan femur atau tulang paha dengan tibia, salah satu tulang kaki bagian bawah. Tapi terlalu banyak tekanan pada ligamen ini dapat menyebabkan mereka untuk meregangkan terlalu jauh – atau bahkan patah.

Cedera ACL dan cedera ligamen lainnya dapat disebabkan oleh:

  •     Memutar lutut dengan kaki yang ditahan
  •     Memperluas gerakan lutut terlalu jauh.
  •     Melompat dan mendarat lutut tertekuk.
  •     Menghentikan secara tiba-tiba saat berjalan.
  •     Tiba-tiba mengangkat badan dari satu kaki ke yang lain.

Cedera ini sering terjadi pada pemain sepak bola, pemain sepak bola, pemain basket, pemain ski, pesenam, dan atlet lainnya.

Ada empat ligamen di lutut yang rawan cedera:

  1.  Ligamentum cruciatum anterior (ACL) adalah salah satu dari dua ligamen utama di lutut. Ini menghubungkan tulang paha ke tulang tulang kering di lutut. Cedera ACL adalah penyebab umum dari kecacatan di lutut. Di AS, 95.000 orang mendapatkan mereka setiap tahun. Mereka lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pria.
  2. Posterior ligamen (PCL) adalah ligamentum utama kedua pada lutut yang menghubungkan tulang paha ke   tulang tulang kering di lutut.
  3. Lateral ligamen kolateral (LCL) menghubungkan tulang paha ke fibula, tulang kecil kaki bagian bawah pada sisi samping atau luar lutut.
  4. Medial ligamen kolateral (MCL) juga menghubungkan tulang paha ke tulang  pada sisi medial atau lutut

Cedera ACL – atau cedera ligamen kadang-kadang sulit untuk mendiagnosa. Gejala cedera ligamen lutut adalah:

  •     Nyeri, sering mendadak dan berat
  •     Sebuah suara keras krek” atau jepret selama cedera
  •     Pembengkakan
  •     Perasaan kelonggaran pada sendi
  •     Ketidakmampuan untuk meletakkan berat badan pada titik tanpa rasa sakit

Untuk mendiagnosa ACL atau cedera ligamen lain, dokter/terapis akan memberikan pemeriksaan menyeluruh. Jika lutut bengkak dengan darah, dokter Anda mungkin menggunakan jarum untuk mengeringkannya. Anda mungkin perlu X-ray, MRI (Magnetic Resonance Imaging) scan, atau tes lainnya.

Apa Pengobatan untuk Ligamen Cedera Lutut?

Pada kasus cedera ringan ligamen lutut sampai sedang dapat disembuhkan pada waktu tertentu . Untuk mempercepat penyembuhan, Anda dapat:

  1. Lutut harus Istirahat total. Hindari menempatkan kelebihan berat badan di lutut Anda. Anda mungkin perlu menggunakan kruk untuk sementara waktu atau pelindung yg lain seperti kinesiotaping.
  2. Kompres lutut Anda untuk mengurangi rasa sakit dan pembengkakan. Lakukan selama 20-30 menit setiap 3-4 jam selama 2-3 hari, atau sampai rasa sakit dan pembengkakan hilang.
  3. Gunakan perban elastis atau kinesiotaping , tali, atau lengan pada lutut Anda untuk mengontrol pembengkakan.
  4. Tinggikan lutut Anda di atas bantal ketika Anda duduk atau berbaring.
  5. Memakai penyangga lutut untuk menstabilkan lutut dan melindunginya dari cedera lebih lanjut.
  6. Ambil obat penghilang rasa sakit anti-inflamasi. Non-steroid anti-inflammatory drugs (NSAID), seperti Advil, Aleve, atau Motrin, voltaren akan membantu dengan rasa sakit dan pembengkakan. Namun, obat ini dapat memiliki efek samping dan mereka harus digunakan hanya kadang-kadang, kecuali dokter Anda secara khusus mengatakan sebaliknya.
  7. Praktek peregangan dan latihan penguatan jika dokter menganjurkan mereka.
  8. Terapi dengan massase/pijat untuk mengurangi bengkak dan merilekkan otot maupun syaraf
  9. Terapi dengan menggunakan sport akupuntur untuk menghilangankan nyeri dan mempercepat proses pemulihan secara alami. Ini efektif sekali untuk pemulihan

Ligamen cruciatum – ACL dan PCL – tidak dapat diperbaiki. Terutama untuk kasus yang benar-benar robek atau terentang melampaui batas mereka. Satu-satunya pilihan adalah rekonstruksi. Dalam prosedur ini, tendon diambil dari bagian lain dari kaki Anda atau mayat untuk mengganti ligamentum yang robek.
Tapi jika rasa sakit tidak menjadi masalah, Anda dapat memilih untuk melewatkan tanpa operasi dan melakukan perawatan terapi dan latihan penguatan dengan program –program terapi kombinasi.

Waktu pemulihan tergantung pada seberapa parah cedera ligamen lutut Anda. Orang juga menyembuhkan pada tingkat yang berbeda. Sementara Anda tahap pemulihan. Anda bisa mengambil sebuah aktivitas baru yang tidak akan menyakiti lutut Anda. Misalnya, pelari bisa mencoba berenang.

Apa pun yang Anda lakukan, jangan terburu-buru. Jangan mencoba untuk kembali ke tingkat lama Anda aktivitas fisik sampai:

  •   Anda tidak merasakan sakit saat Anda membengkokkan atau meluruskan lutut.
  •   Anda tidak merasakan sakit pada lutut Anda ketika Anda berjalan, jogging, berlari, atau melompat.
  •  Lutut Anda tidak lagi membengkak.
  •  Lutut terasa sudah kuat.

Jika Anda mulai menggunakan lutut Anda sebelum sembuh, Anda bisa menyebabkan kerusakan permanen.

Bagaimana saya dapat Mencegah Cedera Ligamen Lutut?

Cedera ligamen lutut sulit untuk mencegah, karena mereka biasanya merupakan hasil dari kecelakaan. Tetapi mengambil beberapa tindakan pencegahan dapat menurunkan risiko Anda. Anda harus:

  •      Jaga otot paha yang kuat dengan peregangan dan latihan penguatan.
  •      Peregangan sebelum dan sesudah aktivitas fisik.
  •      Jangan tiba-tiba meningkatkan intensitas latihan Anda. Lakukan perubahan perlahan-lahan.
  •      Jangan berhenti mendadak dan posisi lutut berputar
Dipublikasi di KESEHATAN OLAHRAGA | Tag , , , , | 21 Komentar